Saat ini aku terkenang ayahanda tercinta. Entah kenapa kenangan itu datang dan mengigit jiwa. Esok Hari Raya Aidil adha 1428 H, aku tak tahu kenapa aku harus merasai kepedihan ini. Memori silam dengan seribu kenangan bersama ayah benar-benar kali ini mengusik jiwa. Kehilangan ayah membuatkan aku lebih tabah dalam air mata. Aku masih ingat kala ayah dengan garang memarahi aku dan acik yang nakal. Saat gembira ayah membawa aku ke kelas fardhu ain di masjid, saat ayah membawa kami menaiki sampan yang digunakan mencari rezeki untuk kami sekeluarga, sememangnya ayah adalah idola pujaan aku.

Masih segar dalam ingatan aku kala ayah menyuruh aku mencari durian di sebelah rumah, kala aku dan ayah sibuk menanam pokok, semuanya masih segar dalam ingatan ku ini.

Dan sesungguhnya masih, masih segar bagaimana kali akhir aku mengucup tangan ayah memohon restu untuk aku pulang ke asrama. Entah kenapa kali itu aku lihat air mata ayah bergenangan, suaranya sebak, aku rasakan ayah tentu akan rindu pada aku bila ku pulang ke asarama nanti. Tapi telahan aku silap, itulah kali akhir aku mengucup tangan ayah memohon restu, saat itulah kali akhir aku lihat wajah sayu ayah, rupa-rupanya ayah mahu meninggalkan kami sekeluarga.

Aku cuba tabahkan hati kala ini, aku dapat rasakan kepedihan hati ini, rindu yang terlampau dalam, rindu yang tersangat menyiksa. Apalah upaya aku untuk itu semua, sekadar menerima dengan redha semata-mata. Doaku tak putus untuk ayah tercinta, semoga jiwa kental ayah mengharung cabaran dan dugaan kehidupan ada bersama denganku, amin.